Wisuda Angkatan Ke-20 STIS Tual Rahayaan : SDM Harus Produktif, Jangan Terjebak Pengangguran

Langgur, Lintas-Timur.com –
Dalam proses wisuda bagi seorang sarjana dalam meraih gelar, merupakan sebuah proses awal dalam pembelajaran, seperti proses awal wisudawan-wisudawati STIS Tual angkatan ke 20 ini.

Hal ini di sampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian, Keuangan dan Pembangunan, Karel Rahayaan, S.Sos mewakili Pejabat Bupati pada gelar wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (STIS) Kota Tual yang berlangsung di balai room hotel villia pada Selasa 16/4/24.

Merupakan suatu harapan, jika ilmu pengetahuan yang di peroleh selama di bangku kuliah dapat berkembang serta dapat di implementasikan guna peningkatan bagi kesejahteraan.

Rahayaan mengatakan, setelah melalui tahapan ini maka para wisudawan-wisudawati akan memasuki fase mencari pekerjaan, di sanalah tempat proses pembelajaran yang jauh lebih kompleks, sehingga ilmu yang di tempa selama kuliah menjadi modal yang penting.

Belum sampai di situ saja, dalam dunia kerja saat ini menginginkan sesuatu yang lebih di mana harus adanya ketrampilan, keuletan serta pemikiran yang inovatif sebagai modal dalam kompetisi.

Kata Rahayaan, dalam rekrutmen tenaga kerja baik regional mau pun di Kabupaten Maluku Tenggara saat ini menunjukan trend yang menurun.

Faktanya, sesuai data BPJS angka pengangguran di Malra tahun 2023 sebesar 5,73 %, sementara penduduk yang teridentifikasi sebagai pengangguran sebanyak 3.301 jiwa.

Dari trend ini terjadi peningkatan banding tahun 2022 yang tercatat sebanyak 2.557 jiwa.Korelasi dengan struktur penduduk juga menunjukkan bahwa penduduk usia produktif atau usia kerja yaitu penduduk usia 15 tahun sampai 64 tahun terus mengalami kenaikan, beber Rahayaan.

Lebih lanjut di katakan, pada tahun 2022, penduduk pada usia produktif Malra sebanyak 71.768 jiwa, kondisi ini meningkat di bandingkan 93.785 jiwa pada tahun 2023 lalu, sehingga dengan grafik ini telah terjadi penambahan jiwa sebanyak 22.017 jiwa atau 31 %, cetusnya.

Kelonjakan populasi ini, teridentifikasi, kelompok terbesar adalah dari usia 15 – 30 tahun sedikit dari generasi milenial dari kelahiran tahun 1981 -1996 dan terbanyak dari generasi 1997 – 2012, sehingga terjadi ketimpangan dalam jumlah usia pencari kerja dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tegasnya.

Rahayaan mengajak semua komponen agar berkaca dari kondisi yang ada sehingga kebijakan pembangunan serta perekonomian, mendorong investasi serta kemudahan berusaha termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju era pembangunan 2024-2026 mendatang.

Pemerintah terus melakukan upaya strategis dalam mendorong perluasan lapangan kerja dalam bentuk investasi di sektor potensial karena dengan upaya ini maka lapangan kerja akan terbuka, sehingga generasi angkatan dapat terserat berkelanjutan guna menekan angka pengangguran, terangnya.

Daerah saat ini memiliki moda SDM yang banyak, sehingga perlu di optimalkan sehingga perlu adanya dorongan agar masuk dalam lingkungan kerja, karena menjadi generasi produktif jangan hanya menjadi penonton yang terjebak dalam lingkungan pengangguran.(**)